Facebook Twitter RSS
banner

Lembaga Sosial Menurut Para Ahli dan Fungsi dari Lembaga Sosial

Lembaga Sosial Menurut Para Ahli dan Fungsi dari Lembaga Sosial
Lembaga Sosial Menurut Para Ahli dan Fungsi dari Lembaga Sosial

Lembaga sosial
yang ada di sekitar kita terbentuk dari adanya adat istiadat, norma, nilai-nilai, tata krama, dan masih terdapat unsur lainya yang membangun. Semua itu bermula ketika masyarakat mengakui dan menghargai dengan adanya norma- norma dan nilai-nilai yang kemudian akan ditaati dan diterapkan kedalam kehidupan sehari-hari. Ketaatan tersebut tidak akan mudah hilang begitu saja jika sudah mendarah daging didalam diri masing-masing anggota masyarakat.

Proses perubahan sebuah aturan menjadi lembaga sosial memakan waktu lama. Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker seperti dikutip oleh Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, (1964), semua kegiatan manusia tunduk kepada habitualisasi, yaitu proses yang menjadikan suatu perilaku menjadi kebiasaan atau biasa untuk seseorang. Oleh karena itu, habitualisasi dapat diartikan dengan pembiasaan. Ketika habitualisasi (kebiasaan) tersebut dianggap memiliki hal yang tinggi atau bermanfaat serta hal tersebut telah diyakini oleh banyak orang, maka proses intitualisasi (pelembagaan) pun terbentuk.

Sifat-sifat dari lembaga sosial, menurut Harsoja adalah:
  1. Berfungsi sebagai unit dalam sistem kebudayaan sebagai satu kesatuan bulat
  2. Memiliki tujuan yang jelas
  3. Relatif kokoh 
  4. Sering menggunakan hasil kebudayaan material dalam menjalankan fungsinya
  5. Sifat karakteristik merupakan sebuah lambang 
  6. Umumnya sebagai tradisi tertulis atau lisan
Sementara menurut Soerjono Soekanto, fungsi-fungsinya sebagai berikut:
  1. Memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat, bagaimana mereka harus bersikap atau bertingkah laku dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul atau berkembang di lingkungan masyarakat, termasuk yang menyangkut hubungan pemenuhan kebutuhan.
  2. Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.
  3. Memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial, yaitu sistem pengawasan masyarakat terhadap anggota-anggotanya.
Menurut Koentjaraningrat aktivitas manusia atau aktivitas kemasyarakatan untuk menjadi lembaga sosial kemasyarakatan harus memenuhi syarat-syarat:
  1. Suatu tata kelakuan yang baku, yang bisa berupa norma-norma dan adat istiadat yang hidup dalam ingatan maupun tertulis.
  2. Kelompok-kelompok manusia yang menjalankan aktivitas bersama dan saling berhubungan menurut sistem norma-norma tersebut.
  3. Suatu pusat aktivitas yang bertujuan memenuhi kompleks- kompleks kebutuhan tertentu, yang disadari dan dipahami oleh kelompok-kelompok yang bersangkutan.
  4. Mempunyai perlengkapan dan peralatan.
  5. Sistem aktivitas itu dibiasakan atau disadarkan kepada kelompok- kelompok yang bersangkutan dalam suatu masyarakat untuk kurun waktu yang lama.
Ciri-ciri yang dirangkum dari pendapat Gilin adalah sebagai berikut:
  1. Aktivitas setiap anggota masyarakat mencerminkan pola pikir dan perilakunya.
  2. Sama halnya lembaga lain, lembaga ini memiliki satu atau beberapa tujuan.
  3. Memiliki komponen pendukung yang berbeda untuk pencapaian suatu tujuan itu sendiri.
  4. Nilai, norma, dan budaya menjadi suatu tingkat kekalan khusus yang merupakan hasil proses percobaan dalam waktu yang relatif lama.
  5. Menggunakan simbol sebagai lambang yang menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga tersebut. 
  6. memiliki tradisi yang tersirat dan tersurat.

SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: admin
Lorem ipsum dolor sit amet, contetur adipcing elit, sed do eiusmod temor incidunt ut labore et dolore agna aliqua. Lorem ipsum dolor sit amet.

0 comments: